|
DATE_FORMAT_LC3
Ibn Khaldun adalah salah satu cendekiawan Islam yang terkenal. Ia lahir pada bulan Mei 1332/Ramadan 732, di Tunisia. Keluarganya merupakan keturunan dari suku Yemen yang berasal dari Hadramawat, Pantai Selatan Arab. Keluarganya merupakan salah satu keluarga kelas atas di Andalusia. Mereka memasuki Spanyol ketika muslim, melalui tentara Yemenite menaklukan negara tersebut. Keluarganya menjadi terkenal karena aktivitas revolusionernya di Seville. Pada pertengahan abad ke 13 keluarganya pindah ke Tunisia karena Seville terancam oleh Christians. Semasa kecil Ibn Khaldun dipengaruhi kehidupan intelektual keluarganya. Keluarganya adalah keluarga berada dan dilindungi oleh penguasa Tunisia. Rumah dimana dia tumbuh sering didatangi oleh para politikus dan para intelektual dari dunia Islam barat.
Ibn Khaldun memulai karier politiknya di usia 20 tahun. Ia beberapa kali menjadi penasehat para penguasa dan menjadi hakim agung (termasuk hakim agung Malikit). Tapi karier politiknya bisa dibilang tidak bagus. Karier politiknya yang pertama, yaitu melakukan aktivitas politik di pemerintahan Tunisia. Di sana, pangeran Hafids, Abu ‘Abd Allah, memberikannya kedudukan sebagai penulis pengumuman kerajaan. Akhirnya ia dipenjara bersama Abu ‘Abd Allah. Ia dipenjara karena dianggap melawan Abu ‘Inan. Makin lama kariernya semakin menurun dan ia memutuskan untuk meninggalkan Tunisia dan pergi ke Granada, Spanyol. Ia pindah ke Granada dengan penuh ambisi. Kegagalannya di Tunisia tidak membuatnya kehilangan harapan dan ambisi.
Dibandingkan muslim Afrika Utara, muslim Spanyol lebih makmur, beradab, stabil, dan leisurely. Dalam karier plitiknya yang kedua tersebut, ia membantu untuk mendidik Raja Muslim Spanyol yang masih muda yaitu Muhammad V. Hubungan keduanya sangat erat. Muhammad V sangat mengagumi sosok Ibn Khaldun dan Ibn Khaldun berharap dapat mendidik Muhammad V menjadi pemimpin bijaksana melalui ajaran filosofi. Melalui Muhammad V, ia ingin membentuk negara yang diimpikannya. Rupanya hubungan erat antar keduanya tidak disukai oleh Ibn Al-Khatib, seorang sekretaris negara. Menurutnya tindakan Ibn Khaldun tersebut tidak bijaksana. Pada tahun 1364, ia mendapat misi diplomatik dari Raja Kerajaan Castile dan Leon, Pedro I. Ia dikirim untuk menciptakan perjanjian perdamaian antara Pedro I dengan para pemimpin muslim Spanyol. Ia sukses dalam misi tersebut dan Pedro I menawarinya untuk duduk di Lembaga Peradilan, tapi Ibn Khaldun menolaknya. Sekembalinya ke Granada, ia bersaing dengan Ibn Al-Khatib yang berencana akan mengirimnya kembali ke Afrika Utara. Mengetahui hal tersebut, Ibn Khaldun menerima tawaran pangeran Hafids, Abu ‘Abd Allah, untuk mengisi posisi penting di kantor Perdana Menteri atau menjadi pengurus Rumah Tangga. Dengan begitu, impian Ibn Khaldun untuk merebut kekuasaan di Bijaya dapat terealisasikan. Ia segera meninggalkan Granada dan pergi ke Bijaya. Walaupun begitu, hubungannya dengan Ibn Al-Khatib tidak memudar. Dugaan Al-Khatib ternyata benar, Muhammad V bukannya menjadi pemimpin bijaksana, melainkan menjadi pemimpin tirani. Ibn Khaldun gagal untuk kedua kalinya.
Abu ‘Abd Allah adalah orang yang kurang efisien dalam memimpin. Ia kehilangan banyak kesetiaan dari para penduduknya. Akhirnya Abu Al-‘Abbas, penguasa Costantine, mengambil alih Bijaya dan segera meminta bantuan Ibn Khaldun untuk mengkonsolidasikan pengendalian kota. Ibn Khaldun menanggapinya, tapi ketika musuh mulai memperingati Bijaya bahwa mereka akan mengambil alih kota, Ibn Khaldun pergi. Harapannya terhadap politik terkubur selamanya. Karier politiknya yang ketiga ini memberikan pengalaman yang berarti. Kegagalan yang ketiga kalinya ini memberi pelajaran bahwa pengetahuan dan pertimbangan satu orang saja tidak cukup untuk merealisasikan impiannya.
Setelah meninggalkan Bijaya, ia menolak tawaran Abu Hammu untuk menjadi pengurus kerajaan. Ia bersama dengan keluarganya tinggal di istana Ibn Salama dan tertutup dari dunia luar. Di sana ia mulai menulis sejarah kontemporer Islam barat dan memulai untuk menulis Mukadimah. Dia menemukan bahwa ada dua aspek sejarah yang berhubungan erat: untuk memahami akibat dan sifat alami dari peristiwa sejarah, sesorang harus memulainya dari informasi yang benar; tapi untuk memahami informasi mana yang benar atau salah sesorang harus memahami sifat alami dan akibat dari masalah tersebut.
Pada bulan November 1337, Ibn Khaldun telah menyelesaikan draft awal Book One dan siap untuk meninggalkan istana, pergi ke urban centre. Di sana ia dapat menemukan beberapa buku dan arsip penting untuk mengkoreksi dan menyelesaikan apa yang telah ia tulis. Tapi setelah itu, ia diserang penyakit dan kembali ke Tunisia dimana pemimpinnya, Abu Al-‘Abbas, memberikan amnesti dan mengundangnya kembali ke kota kelahirannya tersebut. Selama empat tahun di Tunisia, ia berhasil menulis kembali dan menyelesaikan Book One dari ‘History’; dan menyelesaikan Book Three yang isinya berhubungan dengan sejarah kontemporer Islam barat, yang sumbernya terdapat di Tunisia. Sedangkan Book Two yang isinya berhubungan dengan dunia timur belum terselesaikan. Ia tidak terlalu sukses untuk menghindari politik dan ketika ia dipaksa untuk bergabung dalam dunia politik, ia lansung meninggalkan Tunisia dan pergi ke Mesir.
Mesir merupakan kota besar metropolitan yang telah membuatnya terkagum. Di Mesir ia menemukan apa yang diinginkannya, yaitu hidup dengan nyaman dan menggunakan hidupnya untuk belajar dan mengajar. Di sana ia mengajar di Universitas Azhar. Karirnya sebagai pengajar di Mesir sangatlah penting dalam teori sejarahnya. Selain itu, di Mesir ia diangkat menjadi hakim agung Malikit. Sebagai hakim, ia menyadari bahwa korupsi adalah hal yang harus dilawan. Ia tidak lagi berkeinginan untuk mereformasi masyarakat melalui penguasa atau memerintah penguasa menjadi pemimpin bijaksana seperti yang ia lakukan dahulu. Pemahaman atas alami dan sebab dari sebuah masalah menunjuk kepada peran dari orang terpelajar dalam masalah sosial. Orang terpelajar harus mengerti, menginterpretasikan, dan menerapkan hukum; kemudian mengamankan masyarakat dari kelemahan internal dan moral dissolution. Kedudukan sebagai hakim membuatnya sadar akan pentingnya melawan kejahatan dan melindungi masyarakat dari degenerasi. Di Mesir, ia mendapat musibah yang mengguncang jiwanya karena kapal yang membawa anak dan istrinya tenggelam di lepas pantai Alexandria.
Pada tahun 1387, Ibn khaldun pergi ke Mekah dan naik haji. Sekembalinya dari Mekah, ia benar-benar berkonsentrasi pada bidang pendidikan. Ia bersama beberapa orang di Kairo mengeluarkan fatwa yang melawan Barquq. Hal tersebut menimbulkan ketegangan di antara keduanya. Ketika Barquq penguasa Mesir meninggal, Mesir diserang Tamerlene dan Ibn Khaldun dibawa oleh pemimpin Tamerlene ke tendanya untuk meminta nasihat bagaimana menaklukan Mesir dan dunia barat. Ibn Khaldun menyanggupinya dan membuat catatan Tamerlene. Tamerlene membacanya dan berkata bahwa membaca catatan tersebut seperti melihat suatu wilayah yang besar. Satu bulan sebelum Ibn Khaldun meninggal, ia diangkat kembali menjadi hakim agung Malikit. Pada tanggal 17 Maret 1406/15 Ramadan 808, Ibn Khaldun meninggal di Mesir karena ia sudah tidak memiliki keluarga lagi. Mesir telah menyambutnya, menawarkannya perlindungan, keamanan, dan leisure untuk mengikuti ketertarikannya pada dunia pendidikan. Mesir adalah rumah keduanya, tapi ia tidak merasa seperti di rumahnya sendiri. Itu terlihat seperti semakin ia mempelajari karakter masyarakat Mesir, semakin ia memilih kehidupan sederhana yang keras di Afrika Utara daripada kemunduran cara hidup yang beradab dari orang Mesir.













